Sabtu, 16 Jun 2018 10:03

Pendidikan di Bulan Ramadhan

Ditulis oleh
Nilai butir ini
(4 pemilihan)
Pendidikan di Bulan Ramadhan 
Oleh Riki Wirahmawan, S.Si., M.Pd. (Trainer Sekolah Guru Indonesia)
 
Tolitoli,lensaangkasanews.com - Undang-Undang Republik Indonesia Bab II Pasal 3 No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan tentang tujuan dari pendidikan Indonesia adalah untuk “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”, dan Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan diantara tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia”, Dua pasal dalam undang-undang tersebut secara tersurat dengan jelas mengungkapkan bahwa takwa dan akhlak mulia menjadi tujuan dan cita-cita kepribadian manusia Indonesia. Sejalan dengan ini, bagi muslim, tentu bukan lagi hal yang baru bahwa puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi jalan untuk meraih takwa, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Q.S Al-Baqarah ayat 183). 
 
Ramadhan memiliki nama lain yakni ‘syahrut tarbiyyah’. Dalam Bahasa Indonesia artinya adalah bulan pendidikan. Dikatakan demikian, sebab rangkaian proses ibadah yang dijalani oleh umat muslim merupakan pelatihan diri untuk menjadi insan yang lebih baik, tentu insan yang bukan hanya memiliki hubungan baik dengan Sang Pencipta, juga disenangi karena memiliki keharmonisan dengan sesamanya, atau dengan istilah lain puasa bisa menjadi jalan pembentukan akhlak mulia. Ramadhan sangat cocok untuk membangun Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sesuai kurikulum 2013. Pada Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, guru dan peserta didik berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran sesuai dengan keyakinan agama masing-masing adalah bentuk upaya mewujudkan nilai-nilai moral dalam perilaku sehari-hari, pun kita tahu bahwa di bulan Ramadhan segala amalan ditingkatkan pahalanya, berdo’a menjadi “senjata” yang mutlak ada di setiap lini kehidupan muslim terlebih di bulan Ramadhan. Karena bukan hanya perilaku yang dituntut menjadi lebih baik, ucapan di bulan Ramadhan pun sangat diperhatikan akibatnya, sebagaimana hadits berikut: “Puasa itu junnah (tameng atau perisai). Oleh karena itu hendaklah orang yang berpuasa itu tidak berkata kotor, dan tidak mengerjakan pekerjaan orang-orang bodoh. Jika seseorang melaknatnya atau mencaci makinya, maka katakan ‘saya sedang puasa’ sebanyak dua kali (di hati dan di mulut). Sungguh, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tangan (kekuasaan)-Nya bahwa menyengatnya bau busuk mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak misik. Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan syahwatnya karena ketaatannya kepada-Ku. Puasa itu untuk-Ku, sehingga Aku yang akan membalasnya. Dimana satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikkan yang sama.” (HR. Bukhari)
 
DR. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya ‘Ramadhan wa Bina’ul Ummah’ mengatakan, ada beberapa sisi pendidikan dalam puasa Ramadhan. Pertama, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah SWT secara totalitas. Karenanya, tidak pantas seorang muslim jika selesai Ramadhan ketika mendengar salah satu hukum Allah SWT, atau mengetahui salah satu hukum Rasulullah SAW, ia memperdebatkannya. Allah SWT mencintai hamba-hambaNya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa ada keraguan. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya,”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36). Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadhan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadhan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya. Rasulullah SAW bersabda ”Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat.” Ketiga, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman ”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim). Keempat, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfak. Ramadhan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda: ”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril selalu menemuinya setiap malam bulan Ramadhan, lalu memantau bacaan Al-Qur’an beliau. Pada saat ditemui Jibril, Rasulullah lebih dermawan dengan penuh kebaikan (lebih cepat) daripada angin yang ditiupkan.” (HR. Bukhari Muslim).
Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, ketika fajar, dan berbuka di saat yang sama pula, yaitu ketika maghrib. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Sungguh luar biasa, ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin”. Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka. Dan, ketujuh, Ramadhan mendidik ketakwaan dalam hati kaum muslimin. Hal ini jelas sebagaimna yang tertulis dalam Q.S Al-Baqarah di atas. 
 
Ramadhan akan menjadi betul-betul bulan yang sangat dirindukan oleh orang-orang berpendidikan yang sadar akan makna pendidikan di bulan Ramadhan, satu bulan adalah waktu yang relatif singkat agar seseorang mampu ber”metamorphosis” menjadi pribadi terdidik dari kawah candradimuka Ramadhan, mari maksimalkan bulan mulia ini Syahruttarbiyah yang sama-sama kita mengharap berkah dari-Nya.***
Baca 703 kali

Berikan komentar

Tulis Komentarnya donk..

© 2018 Lensaangkasa.com. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.

Salin cuplikan kode Share on Facebook Share on Twitter Share on Google+