Opini

Opini (7)

Sabtu, 16 Jun 2018 10:03

Pendidikan di Bulan Ramadhan

Ditulis oleh
Pendidikan di Bulan Ramadhan 
Oleh Riki Wirahmawan, S.Si., M.Pd. (Trainer Sekolah Guru Indonesia)
 
Tolitoli,lensaangkasanews.com - Undang-Undang Republik Indonesia Bab II Pasal 3 No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan tentang tujuan dari pendidikan Indonesia adalah untuk “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”, dan Pasal 1 UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan diantara tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia”, Dua pasal dalam undang-undang tersebut secara tersurat dengan jelas mengungkapkan bahwa takwa dan akhlak mulia menjadi tujuan dan cita-cita kepribadian manusia Indonesia. Sejalan dengan ini, bagi muslim, tentu bukan lagi hal yang baru bahwa puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi jalan untuk meraih takwa, sebagaimana Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Q.S Al-Baqarah ayat 183). 
 
Ramadhan memiliki nama lain yakni ‘syahrut tarbiyyah’. Dalam Bahasa Indonesia artinya adalah bulan pendidikan. Dikatakan demikian, sebab rangkaian proses ibadah yang dijalani oleh umat muslim merupakan pelatihan diri untuk menjadi insan yang lebih baik, tentu insan yang bukan hanya memiliki hubungan baik dengan Sang Pencipta, juga disenangi karena memiliki keharmonisan dengan sesamanya, atau dengan istilah lain puasa bisa menjadi jalan pembentukan akhlak mulia. Ramadhan sangat cocok untuk membangun Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sesuai kurikulum 2013. Pada Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, guru dan peserta didik berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran sesuai dengan keyakinan agama masing-masing adalah bentuk upaya mewujudkan nilai-nilai moral dalam perilaku sehari-hari, pun kita tahu bahwa di bulan Ramadhan segala amalan ditingkatkan pahalanya, berdo’a menjadi “senjata” yang mutlak ada di setiap lini kehidupan muslim terlebih di bulan Ramadhan. Karena bukan hanya perilaku yang dituntut menjadi lebih baik, ucapan di bulan Ramadhan pun sangat diperhatikan akibatnya, sebagaimana hadits berikut: “Puasa itu junnah (tameng atau perisai). Oleh karena itu hendaklah orang yang berpuasa itu tidak berkata kotor, dan tidak mengerjakan pekerjaan orang-orang bodoh. Jika seseorang melaknatnya atau mencaci makinya, maka katakan ‘saya sedang puasa’ sebanyak dua kali (di hati dan di mulut). Sungguh, demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman tangan (kekuasaan)-Nya bahwa menyengatnya bau busuk mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Allah SWT daripada bau minyak misik. Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan syahwatnya karena ketaatannya kepada-Ku. Puasa itu untuk-Ku, sehingga Aku yang akan membalasnya. Dimana satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikkan yang sama.” (HR. Bukhari)
 
DR. Raghib As-Sirjani dalam kitabnya ‘Ramadhan wa Bina’ul Ummah’ mengatakan, ada beberapa sisi pendidikan dalam puasa Ramadhan. Pertama, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk memenuhi perintah-perintah Allah SWT secara totalitas. Karenanya, tidak pantas seorang muslim jika selesai Ramadhan ketika mendengar salah satu hukum Allah SWT, atau mengetahui salah satu hukum Rasulullah SAW, ia memperdebatkannya. Allah SWT mencintai hamba-hambaNya yang tunduk kepada-Nya tanpa membantah dan menaati-Nya tanpa ada keraguan. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya,”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36). Kedua, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar menundukkan syahwatnya. Ketika Ramadhan kaum muslimin dilarang melakukan hal-hal yang pada hakikatnya halal bila dilakukan pada siang hari di selain Ramadhan. Seperti makan, minum, dan berhubungan suami-istri. Karenanya, seseorang yang telah mendapatkan pendidikan Ramadhan, maka ia akan lebih mampu untuk menahan diri dari makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, serta mampu untuk menjaga diri dari pergaulan lawan jenis yang diharamkan. Puasa, pada hakikatnya adalah memutus dominasi syahwat. Syahwat bisa kuat dengan makan dan minum, dan setan selalu datang melalui pintu-pintu syahwat. Maka dengan berpuasa syahwat dapat dipersempit geraknya. Rasulullah SAW bersabda ”Wahai para pemuda barangsiapa yang mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikah itu bisa menahan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu sesungguhnya bisa mengendalikan syahwat.” Ketiga, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar mengendalikan sifat terburu nafsu serta memiliki kesanggupan untuk menahan amarah. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman ”Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Karena, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Maka, apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, bersuara tidak pantas, dan tidak mau tahu. Lantas jika ada seseorang yang menghinanya atau memeranginya (mengajaknya berkelahi), maka hendaklah ia mengatakan, ’Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim). Keempat, Ramadhan mendidik kaum muslimin untuk senang berinfak. Ramadhan mampu membentuk jiwa orang yang berpuasa menjadi dermawan dengan memberikan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda: ”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril selalu menemuinya setiap malam bulan Ramadhan, lalu memantau bacaan Al-Qur’an beliau. Pada saat ditemui Jibril, Rasulullah lebih dermawan dengan penuh kebaikan (lebih cepat) daripada angin yang ditiupkan.” (HR. Bukhari Muslim).
Kelima, Ramadhan mendidik kaum muslimin agar memiliki rasa persatuan, persaudaraan, dan kasih sayang. Segenap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan berpuasa pada hari yang sama dan berbuka pada hari yang sama pula. Mereka akan mulai berpuasa pada saat yang sama, ketika fajar, dan berbuka di saat yang sama pula, yaitu ketika maghrib. Ramadhan tidak membedakan antara yang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat biasa. Sungguh luar biasa, ada jiwa kebersamaan yang memasuki hati kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Keenam, Ramadhan mendidik kaum muslimin merasakan penderitaan dan kesulitan orang lain. Kaum muslimin merasakan penderitaan lapar dan dahaga untuk waktu tertentu pada siang Ramadhan. Ia merasa lapar dan menderita seperti yang sering dirasakan fakir miskin atau seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim, ”Puasa dapat mengingatkan bagaimana rasanya perut keroncongan dan dahaga yang membakar dan sering dirasakan para fakir miskin”. Sehingga, di saat ia melihat orang lain serba kekurangan, maka tersentuhlah hatinya untuk berbagi kepada mereka. Dan, ketujuh, Ramadhan mendidik ketakwaan dalam hati kaum muslimin. Hal ini jelas sebagaimna yang tertulis dalam Q.S Al-Baqarah di atas. 
 
Ramadhan akan menjadi betul-betul bulan yang sangat dirindukan oleh orang-orang berpendidikan yang sadar akan makna pendidikan di bulan Ramadhan, satu bulan adalah waktu yang relatif singkat agar seseorang mampu ber”metamorphosis” menjadi pribadi terdidik dari kawah candradimuka Ramadhan, mari maksimalkan bulan mulia ini Syahruttarbiyah yang sama-sama kita mengharap berkah dari-Nya.***
Pendidikan Dimulai Dari Bekal Otak Sampai Melakukan Evaluasi Yang Mutlak
Oleh: Riki Wirahmawan, S. Si., M. Pd. 
Trainer Sekolah Guru Indonesia 
 
 
Tolitoli,lensaangkasanews.com - Otak manusia menurut ahli dibedakan menjadi tiga ketegori besar, yang sering disebut dengan istilah triun brain. Dr, Paul Maclean adalah pencetus dari tiga otak dalam satu kepala ini. Triune berarti “three in one” (Dave Meler : 2002), menurutnya otak manusia terdiri dari old brain atau yang biasa juga disebut dengan otak reptil, mid brain atau sistem limbik, dan neo korteks. Masing-masing dari otak manusia ini memiliki fungsinya tersendiri, bagian yang berfungsi untuk berfikir rasional termasuk didalamnya belajar mengamalkan agama dan nilai moral adalah neo korteks, yang berfungsi untuk memproses emosi adalah mid brain atau sistem limbik, sedangkan otak reptil atau old brain berfungsi untuk mengambil keputusan, gerakan spontanitas, naluri liar manusia bahkan ada y ang mengatakan old barain ini sebagai insting hewan pada diri manusia. Dengan mengetahui pembagian otak dan fungsinya, sudah selayaknya kita mengunakan otak untuk berfikir positif, membuat karya, “merawat otak”, dan melejitkan potensi otak sebagai bentuk syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita karunia besar ini. Hal yang harus dilakukan manusia guna melejitkan potensi otaknya adalah dengan melakukan proses pembelajaran, negara kita dengan sistem pendidikan yang ada berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
 
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, banyak PR yang harus dilakukan praktisi pendidikan. Adanya sinergisitas antara komponen pendidikan adalah hal penting yang mutlak dilakukan. Guru sebagai salah satu komponen pendidikan sudah selayaknya melakukan manuver-manuver kreatif guna membangun dan meningkatkan suasana pembelajaran yang kondusif. Pengaturan tempat duduk yang dilakukan guru sudah selayaknya menjadi hal yang harus diperhatikan. Pengaturan tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal, tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduk bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang, inilah salah satu point yang dimaksud dengan kreatifitas. Kreatifitas artinya suatu kemampuan untuk membuat hal-hal baru anti mainstream dan memiliki nilai guna juga estetika. Menurut guru kreatif Sekolah Guru Indonesia, ibu Ami mengatakan bahwa “profesi guru dapat mengembangkan, meningkatkan, dan menjadikan seseorang kreatif”. Karena sejatinya tidak perlu modal besar untuk membuat anak pintar, cukup jadilah kreatif, putar otak, gunakan barang di sekitar. Menjadi guru kreatif berkoresponden positif dengan kompetensi.
 
Penggunaan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melakukan suatu hal adalah definisi dari kompetensi. Setiap manusia tentunya harus memiliki kompetensi guna mencapai tujuan atau meraih kesuksesannya. Guru atau pengajar dituntut untuk memiliki kompetensi, agar anak yang dibimbingnya mampu menjadi “seseorang” yang tentunya harus lebih baik dari gurunya. Alat ukur kompetebel yang bisa digunakan untuk mengetahui seseorang berhasil atau tidak mendidik siswanya adalah melihat siswanya tersebut di masa mendatang. Jadi siapakah mereka? maka paling tidak guru harus mencapai tujuan pembelajaran. Menguasai bahan instruksional, merancang melaksanakan sistem instruksional, memanfaatkan sumber belajar, merancang dan menggunakan alat ukur, dan support sekolah adalah hal yang mutlak harus dilakukan dan didapatkan seorang guru guna memenuhi kompetensi dan syarat seorang pengajar. Setelah proses pembelajaran, maka selanjutnya seorang guru harus melakukan pengukuran, penilaian, dan evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Menurut Ralph Tyler Model setidaknya ada empat alur yang harus dilalui oleh seorang guru guna mencapai evaluasi yang efektif yaitu menentukan tujuan, menentukan pengalaman belajar, mengelola pengalaman belajar, dan melakukan evaluasi. Adapun teknik penilaian bisa dilakukan diantaranya dengan menggunakan pencil paper test, praktek, produk, proyek, portopolio, dan sikap yang kemudian diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif  dengan jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan dan respon siswa berupa tulis dan lisan, ranah psikomotorik dengan jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan dan respon siswa berupa praktik, dan terakhir ranah afektif jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan, respon siswa berupa perilaku. kesuksesan tujuan pembelajaran dan evaluasinya bagaikan pinang yang tidak bisa dibelah dua, nyatu saling melengkapi dan ekuivalen.***
Mengajarkan Anak Untuk Menyelesaikan Konflik 
Oleh Riki Wirahmawan, S. Si., M. Pd (Trainer Sekolah Guru Indonesia) 
 
Tolitoli,lendaangkasa.com - Mengajarkan anak dalam menyelesaikan konflik yang terjadi menjadi hal penting yang harus dilakukan di sekolah. Menjadi suatu hal yang sangat fatal ketika sekolah membiarakan anak-anak memiliki paradigma yang keliru dalam menyelesaikan konflik, sebut saja saat anak-anak merespon konflik hanya dengan kekerasan. Dari sisi nilai pendidikan, hal tersebut merupakan kesalahan yang serius. Orang yang merespon situasi konflik dengan kekerasan dapat membahayakan diri sendiri dan orang. Mereka memiliki kekurangan dalam membangun hubungan baik termasuk pernikahan dan pengasuhan anak. Misalnya, ketika kemampuan resolusi konflik sudah krusial maka kealfaan mereka dalam memimpin menggiring pada kekerasan verbal dan fisikal. Sebagai warga negara, seseorang yang tidak berkontribusi kepada negara dan dunia mencari alternative kontribusinya dengan jalan kekerasan. Bahkan, mereka seringkali menjadi pelaku kekerasan di lingkungan masyarakat.
 
Kehidupan moral di kelas penuh dengan kesempatan untuk mengajar anak-anak menangani konflik secara konstruktif. Suatu penelitian yang pernah dilakukan oleh seorang guru di kelasnya menyatakan tentang situasi yang menyebabkan konflik di kelas mereka diantaranya adalah ketika kamu tidak setuju dengan apa yang orang lain katakan, dua orang ingin menggunakan benda yang sama di waktu yang sama, dua orang berdebat tentang apa yang dilakukan dan seseorang datang kemudian mengambil alih pembicaraan, seseorang melempar sesuatu, dll. 
 
Rapat kelas yang mengambangkan pengajuan solusi dari suatu masalah merupakan salah satu cara untuk membantu murid belajar menerima konflik. Akan tetapi, rapat kelas tidak dapat menyelesaikan semua masalah, karena beberapa alasan, yaitu konflik harus diterima ketika konflik terjadi, dan guru tidak dapat mengadakan rapat kelas setiap ada konflik, pada saat sebuah konflik “memanas” murid-murid sering kali mengingat dan membawa serta masalah mereka, beberapa siswa yang masih kekanak-kanakan akan meminta perlindungan ekstra pada hubungan interpersonal yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah, berikut sebuah pendekatan yang memadai untuk pengajaran resolusi konflik termasuk lima elemen berikut:
 
1. Kurikulum terencana yang telah siswa pikirkan tulis dan bicarakan dalam berbagai konflik
 
2. Pelatihan kemampuan terstruktur yang membimbing siswa menghindari konflik dan kemampuan resolusi konflik
 
3. Menggunakan rapat kelas untuk konflik yang terjadi diantara angota kelas dan untuk menetapkan norma penyelesaian konflik yang baik dan tanpa kekerasan
 
4. Turut campur tangan ketika dibutuhkan untuk membantu siswa menerapkan kemampuan intra personal pada saat konflik baru terjadi
 
5. Membuat rasa tanggung jabab siswa bertambah untuk menyelesaikan konflik mereka dengan bantuan orang dewasa
 
Dengan melakukan lima hal diatas diharapkan siswa dapat belajar bagaimana sebaiknya respon yang timbul saat terjadi konflik di kelasnya atau bahkan dalam kehidupannya.***
Minggu, 10 Jun 2018 12:55

Lika-Liku Refleksi dalam Pendidikan Moral

Ditulis oleh
 
 
Oleh Riki Wirahmawan, S. Si., M. Pd (Trainer Sekolah Guru Indonesia)
 
Tolitoli,lensaangkasa.com - Mana yang harus didahulukan membela teman yang salah atau menegakkan kebenaran? Bolehkah menggali pengetahuan dengan mengorbankan individu? Dua pertanyaan ini mungkin bisa diajukan saat kita akan melakukan proses refleksi pendidikan moral pada peserta didik, Thomas Lickona dalam bukunya Educating For Character Bab 12 membahas tuntas bagaimana setiap elemen dalam pendidikan, terlebih tenaga pendidik untuk melakukan refleksi atas pendidikan moral yang ditransfer terhadap anak. Dalam banyak kasus, peserta didik minim pemahaman bahkan gagal dalam menginterpretasikan bagaimana peranan moral digunakan dalam kehidupan sehari-harinya, tentu hal ini tidak lepas dari kealfaan tenaga pendidik dalam memahamkan moral itu sendiri, sehingga gap pemahaman yang terjadi antara pendidik dan peserta didik bisa diminimalisir dengan cara proses refleksi pendidikan moral.
 
Hal krusial yang biasanya salah diterjemahkan oleh peserta didik mengenai moral ini adalah bagaimana peserta didik memaknai moral hanya sebatas “apa yang benar untuk saya” inilah yang dikatakan kesalahan relativisme moral. Kesalahan ini berakibat peserta didik gagal untuk memahami kebenaran moral yang fundamental seperti moral yang rasional, non relatif, bermanfaat, menghormati kehidupan manusisa, kebebasan, nilai yang melekat pada setiap individu, dan konsekuensi tanggung jawab untuk peduli pada orang lain juga melaksanakan kewajiban dasar. Kesalahan relativisme moral ini diperparah dengan beberapa praktisi pendidikan yang mengusung teori “kebablasan konstruktivisme” yang semuanya dikembalikan kepada pendapat siswa, siswa diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk berfikir dan bertindak, sehingga keputusan apapun mengenai penilaian moral itu sendiri dikembalikan kepada siswanya, peran guru hanya sebatas fasilitator yang “gamang”, mengenai praktik moralitas dasar ini, Thomas Lickona berujar bahwa “jika seorang guru berfikir bahwa semua nilai itu murni personal dan relatif, dan bahwa tidak ada hak dan kewajiban yang mengikat setiap orang maka guru tersebut tidak memliki kapasitas sebagai pendidik moral” hal ini tentu menjadi isyarat bahwa seorang guru harus berperan mengarahkan siswanya untuk berbuat baik tanpa diberikan keleluasaan pilihan seperti “boleh berbuat baik boleh tidak, kalian yang menentukan” karena sejatinya Thomas Lickona berucap “siswa-siswa membutuhkan bantuan untuk mengetahui manakah yang baik dan benar untuk dirinya dan orang lain”
 
Ada satu kasus menarik yang dipuat dalam buku Educating for Character ini, mengenai dilema seorang sahabat yang harus menjawab pertanyaan pemilik toko tentang nama sahabatnya, saat sahabatnya tersebut kedapatan mencuri di toko itu. Jika hal ini ditanyakan kepada siswa, sebutlah siswa tersebut berada pada posisi sahabat yang ditanya itu maka bagaimana jawabannya? Mungkin ada yang berpendapat lebih baik saya tidak memberi tahu nama sahabatnya itu kepada pemilik toko karena sudah selayaknya sahabat saling membantu, toh dulu dia juga membantu saya. Atau mungkin aka nada yang berpendapat saya akan berpura-pura tiyangl mengenal siapa yang ditanyakan oleh pemilik toko itu, dan lain-lain jawaban. Nah, jawaban-jawaban ini yan selanjutnya menjadi bahan kajian tentang Tahapan Perkembangan Alasan Moral Kohlberg (Lawrence Kohlberg, peneliti psikologi pendidikan dari Harvard). Kohlberg membagi tahapan moral ini menjadi lima, tahapan pertama jika jawaban siswa hanya berorientasi pada mengindari hukuman pribadi, missal siswa mengatakan “saya akan memberi tahu nama sahabat yang mencuri itu dari pada saya terkena masalah”. Tahapan kedua, jika jawaban siswa mengarah pada balas jasa, misal, “dulu sahabat saya pernah berbuat baik pada saya maka saya sekarang harus melindunginya”, tahapan ketiga adalah saat siswa melontarkan jawaban yang mengarah pada kesetiaan interpersonal, misal “teman seperti apa yang akan mengadukan sahabatnya?”, tahapan keempat adalah jawaban yang mengarah pada memperhatikan konsekuensi bermasyarakat, seperti “bagaimana jika setiap orang melakukan kejahatan yang sama? Maka saya harus menegakkan keadilan agar tatanan masyarakat tidak hancur” dan tahapan yang tertinggi adalah jawaban yang mengarah pada menghargai setiap orang, seperti jawaban: “mencuri barang di toko itu salah bahkan ketika hanya ada satu pencuri dan satu korban. Hal tersebut melanggar hak pemilik toko sebagai manusia".
 
Sehingga, sorang pendidik haruslah menginternalisasikan kepada anak didiknya mengenai pentingnya refleksi diri, seperti saat anak akan melakukan tindakan bullying coba tanamkan pertanyaan “apakah kamu mau juga diperlakukan seperti itu?” dan menyadarkan efek besar bagaimana jika seisi dunia ini melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan olehnya (anak yang membulli), inilah tes etika reversibility dan universalizability yang bisa dilakukan guru guna memberikan pelajaran refleksi moral terhadap anak didiknya. Mengkonfirmasi berkaitan dengan pemahaman moral yang lain terhadap peserta didik adalah hal penting lain yang harus dilakukan oleh guru, jika guru tersebut tidak mau dikatakan gagal sebagai guru pendidik moral.***
Sabtu, 09 Jun 2018 12:17

SGI SEBAGAI KATALIS KUALITAS PENDIDIKAN

Ditulis oleh
 
 
Tolitoli,lensaangkasa.com - Berbicara mengenai pendidikan, berarti berbicara mengenai nasib suatu bangsa. Bangsa yang maju pastinya ditopang dengan keberhasilan penyelenggaraan pendidikannya. Karena hanya dengan pendidikanlah manusia bisa benar-benar menjadi manusia seutuhnya yang mampu berkarya dan mengembangkan potensi dirinya. Berdasarkan undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pasal 1 ayat (1) yang menjelaskan tentang pendidikan bahwa:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”
 
Definisi pendidikan di atas jelas mengisyaratkan bahwa sejatinya dalam pendidikan ada komponen utama selain peserta didik yang berperan penting dalam mewujudkan harapan dan cita-cita bangsa, fasilitator yang berperan mengembangkan potensi peserta didik tidak lain dan tidak bukan adalah guru. Menurut Undang-Undang R.I Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 1 menjelaskan definisi guru, bahwa:
“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”
 
 
Mengenai guru adalah pendidik profesional, maka tidak boleh tidak seorang guru harus memiliki kecakapan dalam mengajar atau dalam istilah lain memiliki kompetensi. Menurut Mulyasa dalam Jejen Musfah (2011:27) mengungkapkan bahwa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual, yang secara kafah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalitas. Dengan berbekal kompetensi inilah sudah barang tentu guru bisa meraih keberhasilannya. 
Menurut Rogers dalam Sujiono (2009:58) menjelaskan bahwa keberhasilan guru yang sebenarnya menekankan pada tiga kualitas dan sikap yang utama, yaitu: (1) guru memberikan fasilitas untuk perkembangan anak menjadi manusia seutuhnya, (2) membuat suatu pelajaran menjadi berharga dengan menerima perasaan anak-anak dan kepribadian, dan percaya bahwa yang lain dasarnya layak dipercaya membantu menciptakan suasana selama  belajar, dan (3) mengembangkan pemahaman empati bagi guru yang peka/sensitif untuk mengenal perasaan anak-anak di dunia.
Sayang seribu sayang, sepertinya keberhasilan guru dan kompetensinya masih menjadi PR besar di negeri ini, data yang dikeluarkan oleh Balitbang Mendiknas baru-baru ini menjelaskan bahwa guru-guru yang layak mengajar untuk tingkat SD baik negeri maupun swasta di Indonesia ternyata hanya mencapai 28,94%, guru SMP Negeri 54,12%, swasta 60,99% guru SMA Negeri 65,29% swasta 64,73%, guru SMK negeri 55,91%, dan guru SMK swasta mencapai 58,26%, dari kekurangan-kekurangan inilah sudah barang tentu setiap komponen di Negara ini harus berperan menambal dan mencari solusinya.
Bak oase di padang tandus, harapan kebangkitan guru yang menyegarkan terlihat geliatnya di tengah “kelabakan”nya  mencari pemantik yang menjanjikan. Sekolah guru Indonesia dengan berbagai macam terobosannya tengah berusaha menambal celah-celah yang mungkin belum terjamak oleh pemerintah. Sekolah Guru Indonesia tengah melebarkan sayapnya di berbagai penjuru di Indonesia diantanya meliputi SGI Tolis – Sulawesi Tengah, SGI Bolaang Mongondow Utara – Sulawesi  Utara, SGI Seruyan – Kalimantan Tengah, SGI Hulu Sungai Utara-Kalimantan Selatan, SGI Aceh Singkil-NAD,  SGI Pankep dan Makassar (Gabungan Sulsel) SGI Tubi Taramanu, Polewali Mandar (Sulbar), SGI Monta, Bima (NTB), SGI Mataram dan Lombok (Gabungan NTB), SGI Pulau Sebatik, Nunukan (Kaltara), SGI Ponorogo, (Jatim), SGI Depok (Jabar) dan Pandeglang (Banten), SGI Musi Rawas Utara (Sumsel), SGI Palembang (Sumsel), SGI Medan (Sumut), SGI Batam (Kepulauan Riau), SGI Tanjung Pinang (Kepulauan Riau) serta SGI Lima Puluh Kota dan Tanah Datar (Sumatera Barat).
Sekolah Guru Indonesia (SGI) merupakan organisasi pengembangan kepemimpinan guru di bawah naungan Dompet Dhuafa Corporate University yang memiliki komitmen untuk memberi kontribusi aktif dalam perbaikan pendidikan melalui cara-cara ke-Indonesiaan dengan tujuan melahirkan ketokohan guru pemimpin yang memiliki kompetensi mengajar, mendidik, dan jiwa kepemimpinan. Sejak tahun 2009, Sekolah Guru Indonesia telah mencapai 30 angkatan meliputi kurang lebih 2000 orang guru terbina melalui berbagai macam program unggulannya yang diselenggarakan secara gratis, meliputi School of Master Teacher yaitu pelatihan untuk guru-guru daerah dan diselenggarakan di daerah dengan masa pembinaan selama tiga bulan, Executive Class yaitu pelatihan untuk guru-guru daerah yang diselenggarakan di kampus pusat. School for Principle merupakan sekolahnya para kepala sekolah, dan Professional Class pelatihan intensif untuk para fresh graduate, calon guru dengan masa pelatihan 3 sampai dengan 15 bulan dan penempatan perjuangan pendidikan di tempat marginal daerah terluar, terdepan, dan tertinggal di Indonesia selama satu tahun. Perjuangan Sekolah Guru Indonesia dalam upaya peningkatan kualitas guru-guru di Indonesia ini patut dicontoh dan didukung oleh segenap civitas pendidikan di Indonesia guna visi pendidikan Indonesia “terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berakhlak, berkeahlian, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam wadah negara kesatuan republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berdasarkan hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,  memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin” dapat tercapai.***
 
Penulis : Riki
Pendidikan Dimulai Dari Bekal Otak Sampai Melakukan Evaluasi Yang Mutlak
Oleh: Riki Wirahmawan, S. Si., M. Pd. 
Trainer Sekolah Guru Indonesia 
 
 
Otak manusia menurut ahli dibedakan menjadi tiga ketegori besar, yang sering disebut dengan istilah triun brain. Dr, Paul Maclean adalah pencetus dari tiga otak dalam satu kepala ini. Triune berarti “three in one” (Dave Meler : 2002), menurutnya otak manusia terdiri dari old brain atau yang biasa juga disebut dengan otak reptil, mid brain atau sistem limbik, dan neo korteks. Masing-masing dari otak manusia ini memiliki fungsinya tersendiri, bagian yang berfungsi untuk berfikir rasional termasuk didalamnya belajar mengamalkan agama dan nilai moral adalah neo korteks, yang berfungsi untuk memproses emosi adalah mid brain atau sistem limbik, sedangkan otak reptil atau old brain berfungsi untuk mengambil keputusan, gerakan spontanitas, naluri liar manusia bahkan ada y ang mengatakan old barain ini sebagai insting hewan pada diri manusia. Dengan mengetahui pembagian otak dan fungsinya, sudah selayaknya kita mengunakan otak untuk berfikir positif, membuat karya, “merawat otak”, dan melejitkan potensi otak sebagai bentuk syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita karunia besar ini. Hal yang harus dilakukan manusia guna melejitkan potensi otaknya adalah dengan melakukan proses pembelajaran, negara kita dengan sistem pendidikan yang ada berupaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
 
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, banyak PR yang harus dilakukan praktisi pendidikan. Adanya sinergisitas antara komponen pendidikan adalah hal penting yang mutlak dilakukan. Guru sebagai salah satu komponen pendidikan sudah selayaknya melakukan manuver-manuver kreatif guna membangun dan meningkatkan suasana pembelajaran yang kondusif. Pengaturan tempat duduk yang dilakukan guru sudah selayaknya menjadi hal yang harus diperhatikan. Pengaturan tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa dalam proses pembelajaran terutama dalam proses belajar di kelas di sekolah formal, tempat duduk dapat mempengaruhi proses pembelajaran siswa, bila tempat duduk bagus, tidak terlalu rendah, tidak terlalu besar, bundar, persegi empat panjang, sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa merasa nyaman dan dapat belajar dengan tenang, inilah salah satu point yang dimaksud dengan kreatifitas. Kreatifitas artinya suatu kemampuan untuk membuat hal-hal baru anti mainstream dan memiliki nilai guna juga estetika. Menurut guru kreatif Sekolah Guru Indonesia, ibu Ami mengatakan bahwa “profesi guru dapat mengembangkan, meningkatkan, dan menjadikan seseorang kreatif”. Karena sejatinya tidak perlu modal besar untuk membuat anak pintar, cukup jadilah kreatif, putar otak, gunakan barang di sekitar. Menjadi guru kreatif berkoresponden positif dengan kompetensi.
 
Penggunaan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk melakukan suatu hal adalah definisi dari kompetensi. Setiap manusia tentunya harus memiliki kompetensi guna mencapai tujuan atau meraih kesuksesannya. Guru atau pengajar dituntut untuk memiliki kompetensi, agar anak yang dibimbingnya mampu menjadi “seseorang” yang tentunya harus lebih baik dari gurunya. Alat ukur kompetebel yang bisa digunakan untuk mengetahui seseorang berhasil atau tidak mendidik siswanya adalah melihat siswanya tersebut di masa mendatang. Jadi siapakah mereka? maka paling tidak guru harus mencapai tujuan pembelajaran. Menguasai bahan instruksional, merancang melaksanakan sistem instruksional, memanfaatkan sumber belajar, merancang dan menggunakan alat ukur, dan support sekolah adalah hal yang mutlak harus dilakukan dan didapatkan seorang guru guna memenuhi kompetensi dan syarat seorang pengajar. Setelah proses pembelajaran, maka selanjutnya seorang guru harus melakukan pengukuran, penilaian, dan evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Menurut Ralph Tyler Model setidaknya ada empat alur yang harus dilalui oleh seorang guru guna mencapai evaluasi yang efektif yaitu menentukan tujuan, menentukan pengalaman belajar, mengelola pengalaman belajar, dan melakukan evaluasi. Adapun teknik penilaian bisa dilakukan diantaranya dengan menggunakan pencil paper test, praktek, produk, proyek, portopolio, dan sikap yang kemudian diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif  dengan jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan dan respon siswa berupa tulis dan lisan, ranah psikomotorik dengan jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan dan respon siswa berupa praktik, dan terakhir ranah afektif jenis tes yang bisa dilakukan adalah tes tulis dan lisan, respon siswa berupa perilaku. kesuksesan tujuan pembelajaran dan evaluasinya bagaikan pinang yang tidak bisa dibelah dua, nyatu saling melengkapi dan ekuivalen.***
 
 
 
 
O P I N I
 
Oleh ; Hardi Efendi U. Hisa, S.IP
 
 
 
REALISASI PEMBANGUNAN KEBUN PLASMA
 
Sesuai komitmen dalam Surat Perjanjian Kerjasama antara perusahaan mitra PT. Sonokeling Buana, maka sejak bulan september 2012 dilaksanakan tanam perdana (Tahun tanam/TT 2012) yang dilaksanakan di 3 (tiga) plasma bersamaan dengan penanaman di kebun INTI. Kegiatan pembangunan kebun ini terlaksana sampai pada bulan mei 2013 (Land clearing dan tanam) dan hasil dari realisasi pembangunan kebun plasma seperti data tersebut diatas, dengan demikian tahun tanam 2012 – 2016 adalah fase tanaman menghasilkan (TM). Selama masa stagnannya kegiatan tehnis kebun pihak management melaui internal memo Dirut PT. Bukit Berlian Group menginstruksikan kepada jajaran management plasma untuk melakukan verifikasi dan legalisasi lahan (pengumpulan sertifikat dan SKPT) sebagai syarat program revitalisasi serta penentu kelanjutan pembangunan plasma. Kegiatan verifikasi lahan tersebut berlangsung dari tahun 2014 – 2015 dengan hasil verifikasi oleh Tim Verifikasi (Verleg) data hasil verifikasi seperti tersebut di atas. Maka Sesuai dengan MoU antara Pihak Koperasi dan PT. Sonokeling Buana sangat nyata telah mengingkari beberapa isi daripada perjanjian kedua belapihak sebagaimana pasal 2 ayat 2 huruf d, e, dan f, Pasal 3 ayat 1, 2, dan 3, serta Pasal 4 yang ditandatangani kedua belapihak pada hari Jum’at tanggal 30 bulan maret tahun 2012. Disamping itu juga bahwa proses sertifikasi lahan dilakukan pada tahap akhir setelah serah terima kebun dilaksanakan serta telah memenuhi standar kelayakan kebun. Sehingga Dalam konsep kemitraan, perusahaan mitra (PT. SB) adalah pihak yang bertanggungjawab terhadap tehnis pembangunan kebun sampai dengan tanaman menghasilkan sampai 48 bulan, serta tersedianya pabrik pengolahan yang dapat menampung hasil perkebunan. (Permentan Nomor 33 tahun 2006 pasal 10). Bahwa dengan Tidak adanya Laporan kemajuan pekerjaan fisik kebun setiap akhir triwulan dari perusahaan mitra kepada Koptan Plasma secara transparan, ternyataINTI sebelumnya sudah ada aliran dana rekening koran yang masuk ke rekening Koptan Plasma dan Tanpa Sepengetahuan Koperasi Plasma Aliran dana tersebut sudah dipindah bukukan kembali ke rekening INTI (PT. Sonokeling Buana).
 
KEPATUHAN SURAT PERJANJIAN KERJASAMA
 
Rata-rata isi perjanjian kerjasama yang dikantongi Koperasi mitra PT. SONOKELING BUANA telah banyak ditemukan beberapa kejanggalan yang cenderung berpihak kepada perusahaan sebagai INTI yang tidak sesuai dengan implementasinya. Dari sejumlah isi tersebut kami mencermati secara detail adanya kecenderungan-kecenderungan yang sangat jelas merugikan masyarakat Koperasi mitra PT. SONOKELING BUANA, adapun beberapa telaah sebagai berikut : HASIL TELAAH .....Pasal 1. POKOK PERJANJIAN Pada Pasal 1 Pokok perjanjian kerjasama ini apabila ditafsirkan, yang mana INTI memiliki kuasa penuh atas tanah/lahan milik masyarakat sampai menghasilkan dan apabila diberlakukan kepada Koperasi plasma mitra PT. SONOKELING BUANA begitu jelas suatu tindakan Intimidasi secara kolektif kepada koperasi plasma mitra PT. SONOKELING BUANA sehingga masyarakat sangat takut kepada INTI mengingat akan berdampak Hukum, namun diera reformasi saat ini bahwa pada dasarnya pasal 1 ayat 2 tidak semerta-merta dihilangkan dalam setiap pembuatan perjanjian kerjasama melainkan adanya pengujian secara khusus terhadap implementasinya. Maka setelah dilakukan telaah dan fakta hasil temuan lapangan bahwa penerapannya sangat tidak bersesuaian. HASIL TELAAH……. PASAL 2 PEMBANGUNAN KEBUN Fakta penipuan PT. Sonokeling Buana yang diuraikan secara terincidan sistematis dalam materi Pasal 2 ayat 1 dan ayat 2 huruf ftersebut diatas begitu jelas dinyatakan bahwa “KOPERASI dengan ini menyatakan kesanggupan untuk mengkoordinasikan, mengadministrasikan dan menyediakan lahan milik anggotanya(pasal 2 ayat 1)”“pengurusan proses pengsertifikatan tanah milik para anggota KOPERASI yang menyerahkan tanahnya untuk dibangun kebun plasma dengan ketentuan bahwa semua biaya yang timbul sehubungan dengan pengsertifikatan tanah tersebut sepenuhnya menjadi tanggungjawab dari anggota plasma pemilik lahan akan tetapi biaya awal pengurusan pensertifikatan kebun plasma akan ditanggulangi oleh INTI (pasal 2 ayat 2 huruf f)” hal ini sangat bertentangan dengan Undang-undang Nomor 39 tahun 2014 Tentang perkebunan yang berbunyi bahwa “Perusahaan Perkebunan yang memiliki izin Usaha Perkebunan atau izin Usaha Perkebunan untuk budi daya wajib memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar paling rendah seluas 20% (dua puluh perseratus) dari total luas areal kebun yang diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan”(pasal 58 ayat 1).Maksud dari pasal 58 ayat 1 UU No. 39 tahun 2014 ini sangat jelas bahwa tanah yang akan dimitrakan ialah tanah konsensi dari total Luasan HGU PT. SB kemudian disisihkan sebanyak 20% dari total luasan HGU yang ada, namun fakta yang terjadi dilapangan Bahwa sebagian tanah/Lahan yang dijadikan kebun plasma adalah Tanah/lahan yang berasal dari tanah masyarakat itu sendiri yang sebelumnya sudah tersertifikat sebelum adanya pembukaan usaha Perkebunan kelapa Sawit dan atau sebelum adanya kesepakan kemitraan KOPERASI bersama PT. SONOKELING BUANA/INTI di Kabupaten Buol. Untuk mitra PT. SONOKELING BUANA dengan Jumlah SHM yang terkumpul sebanyak 691 persil seluas 4562 Ha dengan Total anggota 2892 orang semua dokumen kepemilikan yang sah sudah diserahkan kepada INTI, apabila ditafsirkan dan dicermati secara detail tentang tujuan pasal 2 tersebut, sengaja telah dirangkai kalimat yang se akan-akan bahwa Masyarakat itu sendiri yang secara sukarela memberikan tanahnya kepada INTI, oleh karenanya hal ini merupakan suatu tindakan Pembohongan dan Penipuan terhadap masyarakat pemilik tanah/lahan yang dengan sengaja melawan perintah Undang-undang. Sehubungan dengan kewajiban INTI pada pasal 2 ayat 2 bahwa INTI telah melakukan penanaman pada areal tanah milik masyarakat (lihat progres kegiatan) dan INTI menjamin adanya pemeliharaan dan pembuatan sarana prasarana dalam waktu 48 bulan terhitung sejak saat penanaman dilakukan,maka segala biaya yang dikeluarkan akan menjadi tanggungjawab INTI yang kemudian menjadi Hutang KOPERASI. Fakta Hukum pasal 2 ayat 2 huruf d, bahwa INTI telah dengan sengaja melalaikan kewajibannya sebagai pihak mitra KOPERASI, sehingga mengakibatkan kerugian Tanah/lahan milik Masyarakat yang sudah digusur dan ditanami kelapa sawit dibiarkan begitu saja kurang lebih 5 tahun terakhir (60 bulan). 
 
Apabila dicermati mengenai implementasi pasal 2 ayat 2 huruf f tersebut, yakni kesesuaian antara pokok materi perjanjian dan fakta hukum, maka pemberlakuan atas prinsip hukum perdata yang mengatur tentang perjanjian kemitraan secara tegas dapat diberlakukan kepada Pihak INTI dan Pihak KOPERASI dapat membatalkan Perjanjian Kerjasama oleh karena tidak terpenuhinya kewajiban INTI serta membebaskan segala biaya yang timbul akibat dari kewajiban INTI guna membangun kebun plasma dan bukan merupakan Hutang KOPERASI atau Petani (Pasal 58 UU. Nomor 39 Tahun 2014). Selanjutnya pada pasal 2 juga menekankan agar lahan tidak akan ada masalah apapun maka apabila ada masalah pada saat atau dikemudian hari maka menjadi tangungjawab KOPERASI, Sehingga pada prinsipnya INTI maunya enak sendiri dan lepas tangan ketika tejadi masalah dan sangat merasa berhak atas segala sesuatu yang menjadi tindakan KOPERASI Selanjutnya pada PASAL 3 KOPERASI benar-benar ditekan dari segi administrasi dan pembiayaan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, dalam hal ini KOPERASI diperintahkan oleh INTI untuk memastikan jumlah besaran KREDIT BANK yang akan diperolehnya guna mengganti biaya talangan yang dikeluarkan oleh INTI selama 48 bulan serta potongan biaya manajement fee 5 % dari total biaya pembangunan kebun.
 
Maka dengan demikian pihak INTI dengan segala kekuasaannya seenak mereka membuat Rincian Anggaran Biaya pengeluaran selama pembangunan kebun berjalan dan tindakan INTI tersebut sudah dilakukan tanpa sepengetahuan KOPERASI sebab selama ini Seperti diketahui bahwa pihak INTI PT. SONOKELING BUANA sebagai mitra Plasma tidak pernah transparan terkait aliran dana yang masuk pada rekening Koptan Harapan Jaya Desa Panilan Jaya sejumlah Rp. 805.000.000,- ,Koptan Sadar Tani Desa Kokobuka sejumlah Rp.960.000.000,- dan Koptan Huukid kuonoto Desa Lomuli sejumlah Rp. 1.088.000.000,- yang kemudian tanpa diketahui sudah dipindah bukukan kembali ke rekening INTI oleh pihak Manajemen, namun fakta yang terjadi bahwa besaran dana tersebut diatas tidak pernah direalisasikan baik secara fisik maupun laporan secara administratif kepada Kelompok-kelompok tani yang menjadi mitra PT. SB. Lanjut PASAL 4. HAK DAN KEWAJIBAN INTI Oleh karena dokumen perjanjian bersama telah disusun secara sepihak oleh INTI maka kecenderungan banyak ditemukan dalam setiap pasal perpasal perjanjian kerjasama tersebut terutama mengenai Hak yang mana diuraikan dalam pasal 4 ayat 1 huruf a “apabila KOPERASI mendapat Kredit BANK yang dicairkan dan dibukukan oleh KOPERASI maka INTI berhak Memindahbukukan Kredit tersebut ke rekening INTI” Dengan alasan sebagai biaya pembangunan kebun. Kecenderungan berikutnya yakni “ menerima fee sebanyak 5 % dari jumlah kredit KOPERASI, Dan memperoleh lahan dalam keadaan bersih” hal ini sangat ironis ketika ditelaah bahwa bagimana mungkin KOPERASI dapat beraktifitas sementara semua biaya yang bersumber dari kredit bank telah dipindahbukukan oleh INTI kedalam rekeningnya tanpa sepengetahuan pihak KOPERASI. Disisi lain pihak INTI tidak lagi melakukan upaya pembangunan kebun plasma sementara dana yang sudah diberikan oleh bank kepada KOPERASI sudah diambil seluruhnya oleh INTI dan mengakibatkan kerugian besar terhadap koperasi dimana Kredit Bank tersebut merupakan Hutang Koperasi yang semakin lama semakin berbunga. Pada prinsipnya Pasal 4 telah memberikan keleluasaan kepada INTI untuk melakukan penyalahgunaan dan pemanfaatan segala dokumen perizinan Koperasi termasuk sertifikat Hak atas tanah milik masyarakat untuk kepentingan INTI. Pasal 4 ini juga diberlakukan bersifat mengikat oleh INTI shingga dengan sesuka mereka mencampuri urusan Koperasi seperti memasukkan beberapa orang dekat mereka atau karyawannya kedalam anggota Koperasi guna untuk mengamankan upaya Pembohongan dan Penipuan INTI kepada KOPERASI. 
 
Selama ini Bahwa INTI selalu berdalih memberikan bantuan pengembangan organisasi (instistusional building) kepada Koperasi melalui kredit bank namun sampai dengan saat ini tidak pernah dilakukan, maka dampak dari itu koperasi akan semakin ketergantungan sementara hutang koperasi semakin membengkak. Ini merupakan kerugian yang dialami Koperasi yang harus diputuskan. Ironisnya INTI sebagai Avalis juga seringkali memberikan penjelasan bahwa sertifikasi lahan plasma belum seluruhnya dilaksanakan oleh INTI sehingga mengakibatkan keterlambatan pembangunan kebun plasma milik masyarakat itu sendiri. Disini Saya Mencermati bahwa INTI dengan mudahnya melakukan praktik kredit macet maka akan berimbas pada penyitaan Tanah/lahan milik Koperasi masyarakat. 
 
ASAS DAN KEDUDUKAN HUKUM PARA PIHAK 
 
Dalam pasal per pasal Perjanjian bersama antara INTI PT. SB dengan KOPERASI Plasma, sangat jelas berat sebelah karena tidak terdapat pilihan dari para pihak yang dirugikan disertai dengan klausulnya dalam Perjanjian yang sangat tidak adil sehingga memberikan keuntungan yang tidak wajar bagi pihak INTI PT. Sonokeling Buana. Tinjauan daripada itu setidaknya Perjanjian bersama antara INTI PT. SB dengan KOPERASI Plasma mempertimbangkan beberapa asas yakni Asas Subsidaritas yang mengandung pengertian bahwa pengusaha menengah atau pengusaha besar merupakan salah satu faktor dalam rangka memberdayakan usaha kecil tentunya sesuai dengan ketentuan kompetensi yang dimiliki dalam mendukung mitra usahanya sehingga mampu dan dapat mengembangkan diri menuju kemandirian dan Kesejahteraan. Sehingga atas kepatuhan asas subsidaritas dalam dokumen/surat perjanjian kerjasama bahwa PT. Sonokeling Buana telah dapat dikategorikan sebagai pengusaha yang patut dianggap telah “ Wanprestasi”, atau dalam arti khusus tentang Wanprestasi ialah “Tidak Terlaksananya Prestasi Karena Kesalahan INTI Baik karena Kesengajaan Atau Kelalaiannya itu sendiri” Selain itu Wanprestasi juga diartikan sebagai pelaksanaan kewajiban INTI PT. Sonokeling Buana yang tidak tepat waktu terhadap pembangunan Kebun Plasma Koperasi karena kewajiban dilakukan tidak selayaknya, sehingga menimbulkan sebuah keharusan oleh INTI membayar Ganti Rugi dan Bunga atas Penguasaan Lahanyang bukan berasal dari tanah konsensi sertifikat Milik INTI PT. Sonokeling Buana (Undang-undang No. 39 Tahun 2014 tentang perkebunan dan surat edaran kepala BPN Nomor : 02/SE/XII/2012) Melainkan lahan/tanah yang berasal dari sertifikat dan SKPT/SKT Lahan 1, 2 dan Pekarangan milik masyarakat yang diadakan oleh pemerintah Daerah Kabupaten Buol sebelumnya kemudian dialifungsikan menjadi Perkebunan plasma Kelapa sawit pola kemitraan Plasma Inti Rakyat (PIR). 
 
      
 
   Buol, 05 Februari 2018
 
   Penulis Ialah,
 
   Koordinator Aliansi Pelopor Ekonomi Kerakyatan (PEKA) &
 
   Ketua PC. Tunas Indonesi Raya (TIDAR) Kabupaten Buol
© 2018 Lensaangkasa.com. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.

Salin cuplikan kode Share on Facebook Share on Twitter Share on Google+